ASAH STRATEGI KOMUNIKASI SAAT KRISIS, PLN KALIMANTAN GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DAN PUBLIKASI UNTUK DIVISI HUMAS UNIT INDUK PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (UIP3B)
ASAH STRATEGI KOMUNIKASI SAAT KRISIS, PLN KALIMANTAN GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DAN PUBLIKASI UNTUK DIVISI HUMAS UNIT INDUK PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (UIP3B)
ASAH STRATEGI KOMUNIKASI SAAT KRISIS, PLN KALIMANTAN GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DAN PUBLIKASI UNTUK DIVISI HUMAS UNIT INDUK PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN (UIP3B)

Banjarbaru, Kalimantan, Indonesia, 15 Maret 2023 – PT PLN (Persero) Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan bersama Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat mengadakan workshop “Pelatihan Jurnalistik untuk Kepentingan Publikasi Internal & Eksternal” pada Rabu 15 Maret 2023 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Pelatihan ini dihadiri oleh Asisten Manager Komunikasi dan Manjemen Stakeholder PT. PLN (Persero) UIP3B Kalimantan Lilia Oktavia dan menghadirkan tiga pemateri yang ahli di bidang jurnalistik dan publikasi, yakni Managing Editor Tempo Sunudyantoro, kemudian ada Public Relations Expert, Penulis Buku PR Crisis, yang juga Mantan Jurnalis Republika Mohammad Akbar, serta Strategic Planner RWE Bhinda, GM Nexus Risk Mitigation & Strategic Communication, dan Co-Founder 2N PR Navigation Syahmitirafi.

Sejatinya, praktisi public relations (PR)/humas memiliki tanggung jawab dalam menjaga, mengelola, dan meningkatkan reputasi perusahaan. Untuk itu, seorang humas harus mampu mengomunikasikan berbagai kepentingan perusahaan kepada para pemangku kepentingan yang beragam. 

Agar dapat melaksanakan tugas tersebut sebaik-baiknya maka seorang humas harus memiliki kapasitas pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang memadai. Salah satunya adalah pengetahuan dan keterampilan di bidang jurnalistik untuk mendukung berbagai kepentingan publikasi perusahaan, baik untuk keperluan internal maupun eksternal.

Dalam sambutannya, Asisten Manager Komunikasi dan Manajemen Stakeholder PT. PLN (Persero) UIP3B Kalimantan Lilia Oktavia mengatakan, ”Setiap tahun Komunikasi dan Manjemen Stakeholder PT PLN rutin menyelenggarakan pelatihan jurnalistik. Kenapa? Karena meskipun unit bisnis UIP3B tidak berhubungan langsung dengan pelanggan, tetapi di era digital ini sudah tidak ada keterbatasan informasi. Semua ruang serba terbuka. Sekarang arus informasi dan kebutuhan pelanggan atas informasi sudah sangat tinggi. Jadi kalau hanya mengandalkan teman-teman di divisi distribusi untuk menyampaikan informasi, maka informasi yang sampai ke pelanggan tidak akan cukup.”

Perempuan yang akrab disapa Okta itu menganalogikan kebutuhan informasi sama seperti kebutuhan listrik di pembangkit, yang permintaannya sudah sangat tinggi. “Kalau kapasitas pembangkitnya segitu-segitu aja, dipikul oleh orang itu-itu aja, maka tidak akan cukup memenuhi kebutuhan pelanggan,” ujarnya. Oleh karena itu, di tahun 2023 ini PLN UIP3B Kalimantan membentuk influencer-influencer, teman-teman pengelola komunikasi sampai ke tingkat unit layanan, atau setingkat kecamatan. 

“Dalam situasi krisis, kalau misalnya informasi baru datangnya dari Banjarbaru kemudian diteruskan, takutnya informasi belum sampai sana, tetapi krisis sudah merebak. Kalimantan itu besarnya 4,5x pulau Jawa. Maka dari itu kami meminta bantuan teman-teman di unit layanan untuk berjuang mengelola komunikasi publik bersama,” imbuh Okta menyampaikan.

Okta melanjutkan, “Tidak adil jika kami meminta kalian berperang tanpa memberikan senjatanya. Maka dari itu Persero menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dengan mendatangkan pembicara-pembicara kompeten level nasional untuk mengajarkan bagaimana mengelola komunikasi publik. Bagaimana mengatur atau menjalankan strategi komunikasi di kala krisis. Sehingga teman-teman sudah tahu apa yang harus dilakukan Jika nanti ada krisis. Tentu unit induk tidak akan lepas tangan, kami semua akan turun tangan. Tetapi alangkah mudahnya jika frekuensi kita sudah sama. Teman-teman sudah tahu kalau terjadi A, maka yang harus dilakukan B. Sehingga tidak ada blunder-blunder.”

Pada sesi pertama pelatihan, Managing Editor Tempo Sunu Dyantoro memaparkan bagaimana menulis siaran pers yang baik semakin krusial di era digital. “Dunia kita saat ini kondisinya banjir informasi dan berita bohong atau hoaks. Hal itu menjadikan kerja tim humas dan wartawan harus lebih ekstra. Begitu kita salah, itu akan berdampak destruktif untuk korporasi. Humas dan Wartawan memiliki tugas menangkal hoaks, meng-encounter informasi bohong.”

Sunu melanjutkan, “Menulis siaran pers yang baik adalah yang memiliki nilai berita, basisnya faktual, ada verifikasi, juga ada konfirmasi. Siaran pers juga harus mudah dicari di mesin pencari Google, karena sekarang adalah dunia digital. Tetapi kalau informasinya ‘tidak ramah’ Google, yang baca juga sedikit. Juga, siaran pers harus sesuai kaidah jurnalistik sehingga bisa menembus meja redaksi. Dan terakhir siaran pers juga harus mudah dipahami oleh banyak orang, jangan bertele-tele.”

Pada sesi kedua, Public Relations Expert dan Penulis Buku PR Crisis Mohammad Akbar menuturkan bagaimana menulis siaran pers dengan gaya storytelling atau feature. “Menulis jurnalistik yang paling fundamental adalah straight news. Informasi sudah bisa disimpulkan dari dua paragraf pertama. Kemudian ada menulis opini atu pendapat dengan kapasitas kita. Lalu ada laporan investigasi, seperti Tempo. Kemudian ada indepth reporting. Dan terakhir feature/story telling. Jadi tingkatanya di atas straight news.

Akbar lebih lanjut memaparkan, “Menulis story telling bisa dengan berbagai macam gaya, tidak baku seperti straight news atau opini. Cara pengemasannya atau narasinya juga deskriptif. Jika kalian suka membaca novel maka adaptasi menulis story telling tidak akan terlalu berat. Tetapi memang tidak bisa instan, harus terus diasah. Tidak ada tulisan yang buruk, yang buruk adalah tidak menulis.” 

Pada sesi ketiga atau terakhir Strategic Planner RWE Bhinda, GM Nexus Risk Mitigation & Strategic Communication, dan Co-Founder 2N PR Navigation Syahmitirafi mengajarkan bagaimana menyampaikan informasi yang baik melalui media sosial. “Persoalan umum yang terjadi dalam menyampaikan informasi korporat di media sosial adalah pertumbuhan follower yang lambat, tidak ada interaksi, dan sedikit pemirsa yang menyukai postingan. Hal itu dikarenakan beberapa kesalahan yang secara tidak sadar dilakukan. Mulai dari terlalu berjualan, hadir sebagai institusi, konten random, narsis, dan tidak punya karakter, serta keliru ‘membaca’ audience dan keliru membaca algoritma.”

Kemudian pria yang akrab disapa Rafi itu memberikan tips dan trik komunikasi yang baik di media sosial mulai dari riset, targetkan audiens, ciptakan karakter, bikin pilar konten, ikuti tren, optimalisasi fitur yang ada, dan hadir sebagai manusia (bukan institusi), dan evaluasi bulanan.

“Semoga pelatihan ini bisa membuka cakrawala baru. Biasanya main sama trafo dan sutet, sekarang belajar tentang narasi, siaran pers, bagaimana menulis berita yang semoga nanti akan bermanfaat bagi semua dan menunjang karir teman-teman. Ketika teman-teman sudah menyerap ilmunya, mempunyai pengalaman baru, menerapkannya di unit, nanti akan ada sertifikasi,” pungkas Okta.

Berita dan Event Menarik Lainnya